Kearifan lokal dayak kenyah
KELOMPOK 3:
-Khezya Kendra Panjaitan
-Nisa bela Sabilia
-Nurul Yayya Aprillada
-Candra Riansa
-Jufri Simon
-Muhammad Iksan Dwi Syaputra
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
https://1.bp.blogspot.com/8ZSSjiLFDsI/WdNXfdGmRjI/AAAAAAAABDo/deU8K2J_WO0kwqahZ9KtzA5eoYlbkqbJwCLcBGAs/s1600/alun%2Balun.jpg
Kabupaten Nunukan merupakan wilayah pemekaran dari Kabupaten Bulungan, yang terbentuk berdasarkan pertimbangan luas wilyah, peningkatan pembangunan, dan peningkatan pelayanan kepada masyarakat. Pemekaran Kabupaten bulungan ini di pelopori oleh Kolonel R.A. Besing yang pada saat itu menjabat sebagai Bupati Bulungan.
Pada tahun 1999, pemerintah pusat memberlakukan otonomi daerah dengan didasari Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Dengan dasar inilah dilakukan pemekaran pada Kabupaten Bulungan menjadi 2 kabupaten baru lainnya, yaitu Kabupaten Nunukan dan Kabupaten Malinau.
Pemekaran Kabupaten ini secara hukum diatur dalam UU Nomor 47 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kabupaten Nunukan, Kabupaten Malinau, Kabupaten Kutai Timur, Kabupaten Kutai Barat dan Kota Bontang pada tanggal 4 Oktober 1999.
Seiring dengan pembentukan Kabupaten Nunukan, dilakukan pula pelantikan penjabat Bupati Nunukan pertama, yaitu Drs. Bustaman Arham, tepatnya pada tanggal 12 Oktober 1999 di Jakarta. Selanjutnya tanggal 28 Desember 1999 dilanjutkan dengan pelantikan 20 orang anggota Legislatif Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Nunukan hasil Pemilihan Umum tahun 1999. Para Legislator tersebut berasal dari Partai Golkar, PDIP, PPP dan PAN.
Visi dan Misi
Visi Jangka Menengah yang diusung oleh Kepala Daerah terpilih yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota/Kabupaten adalah :
“Menjadikan Kabupaten Nunukan Sebagai Pusat Pertumbuhan Ekonomi Berbasis Agrobisnis Menuju Masyarakat yang Maju, Aman, Adil, dan Sejahtera ”
Berdasarkan visi tersebut, ditetapkan misi Pembangunan sebanyak tujuh misi:
Mewujudkan Kabupaten Nunukan tiga pintu gerbang pembangunan;
Mewujudkan pemerintahan Kabupaten Nunukan yang professional , partisipasif, bersih dan bertanggung- jawab;
Meningkatkan kualitas pelayanan bidang kesehatan , pendidikan dan sosial dasar lainnya dengan pendayagunaan IPTEK
Meningkatkan perekonomian daerah yang berdaya saing dengan mengutamakan partisipasi masyarakat yang seluas-luasnya;
Meningkatkan sarana dan prasarana publik pada kawasan pertumbuhan;
Terwujudnya penatan kawasan perbatasan dan terbukanya isolasi daerah tertinggal;
Mewujudkan keamanan, ketentramanW dan ketertiban masyarakat dengan mengutamakan supremasi hukum.
DAYAK KENYAH
Suku Kenyah adalah suku Dayak
[1] yang termasuk rumpun Apokayan yang berasal dari dataran tinggi Usun Apau, daerah Baram, Belaga, Sarawak. Dari wilayah tersebut suku Kenyah memasuki Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara melalui sungai Iwan di Sarawak terpecah dua sebagian menuju daerah Apo Kayan yang sebelumnya ditempati suku Kayan dan sebagian yang lainnya menuju daerah Bahau. Pergerakan suku ini menuju ke hilir akhirnya sampai ke daerah Mahakam dan akhirnya sebagian menetap di Kampung Pampang Samarinda Utara, Samarinda. Sebagian lagi bergerak ke hilir menuju Tanjung Palas. Suku Kenyah merupakan 2,4% penduduk Kutai Barat.
[2]Suku Kenyah terbagi menjadi Kenyah Dataran Rendah dan Kenyah Dataran Tinggi /Usun Apau Kenyah.
Seni budaya suku Kenyah sangat halus dan menarik, sehingga ragam seni hias banyak dipakai pada bangunan-bangunan di Kalimantan Timur.Bukan Sahaja terdiri daripada seni ukiran tetapi tarian dan juga cara hidup
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Berkas:COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Een_Kenyah_familie_Borneo_TMnr_10005528.jpg
PERNIKAHAN DAYAK KENYAH
Pekiban merupakan acara adat Perkawinan Adat Kenyah Lepo Tau tahap awal pernikahan adat adalah dijemputnya calon mempelai wanita menuju rumah calon mempelai laki-laki untuk diperkenalkan kepada keluarga. Dalam penjemputan tersebut diserahkan “SUA FA” atau sebilah parang sebagai wujud keseriusan calon mempelai laki-laki. Setelah tiba di kediaman laki-laki maka disambut dengan tari-tarian. Setelah tiba maka dilaksankan prosesi pekiban yang dipimpin oleh tua-tua kampong dengan peran khusus yang disebut “Pengulo” adat pekeiban. Dalam pelaksanaan upacara adat pernikahan Pekiban wajib disediakan property anatara lain Tempayan sebagai lambaang kesatuan hati, Batu Jala/Batu Ampit tidak terpisahkan, tikar atau Pat bermakna menggutamakan musyawarah untuk duduk bersama menyelesaikan masalah yang terjadi, Sua Fa atau sebilah parang mengambarkan untuk membersihkan jalan kedua mempelai anatar keluarga mempelai, untuk memotong penghambat yang akan merusak hubungan kekeluargaan keluarga besar mempelai laki-laki dan perempuan. Memulai pekiban kedua mempelai dipersilakan oleh pemimpin upacara adat untuk duduk pada gong kecil/tawek dan bersama-sama memegang parang dan sambil menginjak parang berikutnya sebagai komitmen dalam sebuah ikatan perkawinan yang sah dalam acara tersebut dilaksanakan juga untuk melihat masa depan kedua mempelai baik atau banya rintangan yang akan di hadapi upacara ini disimbulkan melalui pemotongan babi untuk dilihat pada hati babi tersebut menurut keyakinan akan terlihat tanda-tanda tersendiri. Akhir dari kegiatan pernikahan tersebut para tua-tua akan melakukan siraman penyejuk kepada kedua mempelai dan semua undangan yang hadir.
https://images.app.goo.gl/8TCCN4uqZnAv1s3Q8
TARIAN DAYAK KENYAH
Tari Kancet Papatai adalah kesenian tradisional dalam bentuk tari-tarian perang yang bercerita tentang seorang pahlawan Dayak Kenyah yang sedang berperang melawan musuh. [1] Tarian ini juga menggambarkan tentang keberanian para pria atau ajai suku Dayak Kenyah dalam eksekusi, mulai perang sampai dengan upacara pemberian gelar bagi pria atau ajai yang sudah berhasil mengenyahkan musuhnya. [2]Gerakan tarian ini sangat lincah, gesit, penuh semangat dan kadang-kadang diikuti oleh pekikan para penari. [3] Kancet Papatai diiringi lagu Sak Paku dan hanya menggunakan alat musik sampe
[4]Mandau merupakan salah satu senjata suku Dayak yang merupakan pusaka turun temurun dan dianggap sebagai barang keramat atau memiliki kesaktian. [5] Selain itu mandau juga merupakan alat untuk memotong dan menebas tumbuh-tumbuhan dan benda-benda lainnya, karena hampir sebagian besar kehidupan sehari-hari orang Dayak berada di hutan, maka mandau selalu berada dan mendinginkan pinggang mereka.
[6]Baju perang dayak merupakan baju perang yang terbuat dari kulit kayu, kulit binatang, dan dihiasi logam. Seringkali pakaian menantang itu dilengkapi dengan tulisan-tulisan ( rajah ) dengan tujuan menangkal si pemakai ketika berkelahi atau berkelahi, sehingga ia senang.
http://regional.kompas.com/image/2022/09/02/211843778/tari-kancet-papatai-asal-kalimantan-timur-makna-properti-dan-gerakan?page=1
MAKANAN DAYAK KENYAH
Lepet adalah makanan tradisional dari suku Dayak yang terbuat dari beras yang dicampur dengan bahan seperti gula kelapa, kelapa parut, dan garam. Campuran tersebut kemudian dibungkus dengan daun pisang dan dipanggang hingga matang. Makanan ini memiliki rasa manis dan tekstur lengket, sering dianggap sebagai camilan atau makanan ringan.
Bangamat yaitu makanan yang terbuat dari kelelawar besar/kalong. Cara pembuatannya, Paing (Kalong) yang ingin dimasak harus dibersihkan terlebih dahulu dengan membuang kuku, bulu kasar ditekuk, dan punggung, serta ususnya
https://images.app.goo.gl/HMyJVFq3equv53iN6
DAFTAR PUSATAKA
https://kaltara.bpk.go.id/profil-pemerintah-kabupaten-nunukan/#:~:text=Tulisan%20Kabupaten%20Nunukan%20adalah%20nama,yang%20dikenal%20dengan%20nama%20Dwikora.
http://dayakkalimantan.com
https://p2k.stekom.ac.id/ensiklopedia/Suku_Dayak_Kenyah#:~:text=Suku%20Kenyah%20adalah%20suku%20Dayak,daerah%20Baram%2C%20Belaga%2C%20Sarawak.
https://images.app.goo.gl/MWQXHo799az8nDf26
https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/?newdetail&detailTetap=1318#:~:text=Pekiban%20merupakan%20acara%20adat%20Perkawinan,laki%20untuk%20diperkenalkan%20kepada%20keluarga.

Komentar
Posting Komentar